Doa Insomnia
Sujud malamku...
Semaikan senyum tuk tidurmu...
Doaku,...
tuk teduh mimpimu...
Damailah malam saat rebahmu...
Karena, seribu jejak yang kupijak...
Ratusan garis yang kugores...
Jutaan kata yang kudoa...
Mengingatkanku pada negerimu...
Mengais mimpi di malammu...
Menyepuh pekat dengan getar-getar rindu...
Di sini, aku ada untukmu...
Kusatukan munajat demi bahagiamu...
Kuharap malam ini ada tenangmu...
Kuingin saat ini damaimu...
Yang kupinta detik ini bahagiamu...
Pagutlah cemerlang mimpi di batas hatimu...
Percayalah,..
aku selalu gelisah,...
bila tidurmu diselimuti gundah...
Karena di pagi yang masih basah...
aku mau suaramu mengapung di udara...
menghiasi bulir-bulir embun pagi yang tersisa ...
Dari sudut hati terdalam,...
kubingkai cita yang masih tenggelam...
"Wallahu a'lam bi as-Shawab"
Tampilkan postingan dengan label Sajak. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sajak. Tampilkan semua postingan
Senin, 07 Juni 2010
Jumat, 07 Mei 2010
Malam Menanti
Malam Menanti
Malam ini…
Begitu sepi,
sunyi...
hanya secangkir kopi
sebatang rokok juga korek api…
Malam kian larut…
sorak insan redup
hati kian kalut
resah dan gundah
tak temukan arah...
Di mana sosok yang kucari…
ke mana khayal berlari…
kenapa semuanya pergi
jiwaku dilanda sepi..sunyi..
sendiri dan menanti...
Harapan merekah, memerah
mungkin juga cepat berguguran...
tebarkan senyum kemenangan
Tinggal aku
dengan perasaan malu
lalu berlalu
jika kau tak pedulikanku
tanpa merajuk
apalagi merayu...
Dalam kesunyian malam
aku bercanda dalam diam
berharap dalam senyuman
sebelum doa mulai kupanjatkan
Sebelumnya
biarkan aku bercengkerama, berpesta
tanpa suara…
tanpa bicara
biar lebih bermakna...
fajar masih terpulas
insan mendengkur dalam pakaian bekas
tergeletak dalam buaian kelam
hati ini masih menanti
jiwa ini sunyi
sepi…sendiri..
hanya secangkir kopi…
sebatang rokok
juga korek api...
Entah apa jawaban hati
Aku tawakkal kepada-Mu ya Ilahi...
Malang, 24 Jumadal Ula 1431 H
Malam ini…
Begitu sepi,
sunyi...
hanya secangkir kopi
sebatang rokok juga korek api…
Malam kian larut…
sorak insan redup
hati kian kalut
resah dan gundah
tak temukan arah...
Di mana sosok yang kucari…
ke mana khayal berlari…
kenapa semuanya pergi
jiwaku dilanda sepi..sunyi..
sendiri dan menanti...
Harapan merekah, memerah
mungkin juga cepat berguguran...
tebarkan senyum kemenangan
Tinggal aku
dengan perasaan malu
lalu berlalu
jika kau tak pedulikanku
tanpa merajuk
apalagi merayu...
Dalam kesunyian malam
aku bercanda dalam diam
berharap dalam senyuman
sebelum doa mulai kupanjatkan
Sebelumnya
biarkan aku bercengkerama, berpesta
tanpa suara…
tanpa bicara
biar lebih bermakna...
fajar masih terpulas
insan mendengkur dalam pakaian bekas
tergeletak dalam buaian kelam
hati ini masih menanti
jiwa ini sunyi
sepi…sendiri..
hanya secangkir kopi…
sebatang rokok
juga korek api...
Entah apa jawaban hati
Aku tawakkal kepada-Mu ya Ilahi...
Malang, 24 Jumadal Ula 1431 H
Mengapa?
Mengapa?
Mengapa ada dusta,
bila cita dan asa sama
Mengapa ada dengki,
jika satu tujuan yang kan kita gapai
Mengapa tercipta rahasia,
bila titian kita berpangkal tiada beda
Mengapa tersodorkan mufakat,
jika dari belakang tertancap opsi hianat
Mengapa harus bersembunyi,
bila kejujuran dijunjung tinggi
Mengapa sisakan diam,
jika di balik tirai bercerita muram
Mengapa terucap kata setuju,
bila terkubur kerja sama tuk maju
Mengapa bibir bungkam,
jika kemelut jiwa tiada tentram
Mengapa ada kebohongan,
bila ingin ketentraman
Mengapa dulu membenci,
jika dilakukan kini
Mengapa harus merendah,
bila hanya topeng belaka
Mengapa lagak khumul,
jika fiksi dari mulut selalu timbul
Mengapa ingin merendah,
bila bicara itu tiada reda
Mengapa salahkan orang lain,
jika tak berani ungkap kesalahan diri
Mengapa kau ingkar
Mengapa kau culas
Mengapa kau acuh
Mengapa kau ragu
Tak mau apa adanya
Tak biarkan nurani bicara
Tak cega kebohongan berkuasa
Tak hendak rasa angkuh kau binasa
Yang ada dalam benak hanya sedu sedan
Rintihan diri tiada nian
Hingga sesalku
akan yang kini bersemayam di hatimu
Mengapa ada dusta,
bila cita dan asa sama
Mengapa ada dengki,
jika satu tujuan yang kan kita gapai
Mengapa tercipta rahasia,
bila titian kita berpangkal tiada beda
Mengapa tersodorkan mufakat,
jika dari belakang tertancap opsi hianat
Mengapa harus bersembunyi,
bila kejujuran dijunjung tinggi
Mengapa sisakan diam,
jika di balik tirai bercerita muram
Mengapa terucap kata setuju,
bila terkubur kerja sama tuk maju
Mengapa bibir bungkam,
jika kemelut jiwa tiada tentram
Mengapa ada kebohongan,
bila ingin ketentraman
Mengapa dulu membenci,
jika dilakukan kini
Mengapa harus merendah,
bila hanya topeng belaka
Mengapa lagak khumul,
jika fiksi dari mulut selalu timbul
Mengapa ingin merendah,
bila bicara itu tiada reda
Mengapa salahkan orang lain,
jika tak berani ungkap kesalahan diri
Mengapa kau ingkar
Mengapa kau culas
Mengapa kau acuh
Mengapa kau ragu
Tak mau apa adanya
Tak biarkan nurani bicara
Tak cega kebohongan berkuasa
Tak hendak rasa angkuh kau binasa
Yang ada dalam benak hanya sedu sedan
Rintihan diri tiada nian
Hingga sesalku
akan yang kini bersemayam di hatimu
Langganan:
Postingan (Atom)
